ELIMINASI METABOLISME DAN FEKAL

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

Eliminasi merupakan pembuangan sisa proses di dalam tubuh. Eliminasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (KDM) yang dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan dalam  tubuh (homeostasis). Kebutuhan eliminasi dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya, usia, diet, latihan fisik dan lain-lain.

Sistem yang berperan dalam eliminasi atau proses pembuangan meliputi hampir semua sitem tubuh. Jika terjadi gangguan terhadap eliminasi, maka sistem tubuh yang berperan juga terganggu. Untuk itu, diperlukan pengetahuan tentang kebutuhan proses eliminasi sampah metabolisme dan pencernaan.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana proses eliminasi sisa metabolisme?
  2. Bagaimana proses eliminasi sisa pencernaan ?
  3. Faktor apa saja yang memengaruhi eliminasi?
  4. Bagaimana metode pemenuhan kebutuhan eliminasi?
  5. Apa saja gangguan-gangguan pada proses eliminasi?

1.3  Tujuan

1.3.1        Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan

1.3.2        Tujuan Khusus

  1. Untuk mengetahui proses eliminasi sisa metabolisme
  2. Untuk mengetahui proses eliminasi sisa pencernaan
  3. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi eliminasi
  4. Untuk mengetahui metode pemenuhan kebutuhan eliminasi
  5. Untuk mengetahui gangguan-gangguan pada proses eliminasi

 

 

1.4  Manfaat

Dapat mengetahui proses eliminasi sisa metabolisme dan sisa pencernaan, faktor yang memengaruhi eliminasi dan metode pemenuhan kebutuhan eliminasi serta gangguan-gangguan pada proses  eliminasi lebih mendalam.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1 Eliminasi Sisa Metabolisme

Eliminasi sisa metabolisme merupakan pembuangan sampah dari proses metabolisme tubuh. Beberapa jenis sampah metabolisme yang dibuang oleh tubuh antara lain, air, CO2, urea, dan lain-lain. Sistem tubuh yang berperan dalam proses pembuangan tersebut yaitu, sistem pernapasan, integumen, hepar, endokrin, dan renal. Apabila sistem yang terlibat dalam eliminasi terganggu, maka terjadi perubahan pola eliminasi.

2.1.1 Sistem Pernapasan

Gambar 1. Sistem Pernapasan

 

Sistem pernapasan atau respirasi adalah suatu peristiwa inspirasi (menghirup udara O2) dan ekspirasi (menghembuskan CO2). Menurut Syaifuddin (2011:382), sistem respirasi berperan untuk menukar udara ke permukaan dalam paru. Sementara itu menurut Guyton & Hall (2007:37), tujuan dari pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan membuang karbondioksida. Untuk mencapai tujuan ini, pernapasan dibagi menjadi empat fungsi utama : (1) ventilasi paru, (2) difusi oksigen dan karbondioksida, (3) pengangkutan oksigen dan karbondioksida, dan (4) pengaturan ventilasi.

Sistem pernapasan berperan dalam pembuangan karbondioksida dan air. Pembuangan ini juga dipengaruhi oleh fungsi kardiovaskuler. Misalnya,pada seseorang yang mempunyai gangguan pompa jantung kiri di mana kemampuan jantung untuk menerima pengembalian darah yang berasal dari paru-paru mengalami hambatan. Hal tersebut menyebabkan tekanan hidrostatik paru-paru akan naik dan cairan keluar ke intersitial jaringan paru-paru. Akibatnya terjadilah edema paru-paru. Kondisi ini akan mengganggu proses difusi dan compliance paru-paru,sehingga terjadilah gangguan eliminasi CO2 (Asmadi, 2008:91).

2.1.2 Sistem Integumen (Kelenjar Keringat)

Gambar 2. Sistem integumen

 

Sistem integumen mencakup kulit pembungkus permukaan tubuh dan jaringan aksesoris lainnya, termasuk kuku, rambut,dan kelenjar. Syaifuddin (2011:48)  mengatakan  bahwa kulit berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga lubang masuk. Pada permukaan kulit bermuara  kelenjar keringat dan kelenjar mukosa.

Kelenjar keringat merupakan kelenjar tubular bergelung tidak bercabang, terdapat pada seluruh kulit kecuali pada dasar kuku, batas bibir, gland penis, dan gendang telinga. Kelenjar ini paling banyak terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki. Terdapat dua macam kelenjar keringat,yaitu : Kelenjar keringat ekrin yang tersebar di seluruh kulit tubuh kecuali kulup penis, bagian dalam telinga luar,telapak tangan, telapak kaki, dan dahi; kelenjar keringat apokrin merupakan kelenjar keringat yang besar hanya dapat ditemukan pada ketiak, kulit puting susu, kulit sekitar alat kelamin, dan dubur (Syaifuddin, 2011:57). Sedangkan, dalam kamus saku kedokteran Dorland (2012:476),  sweat gland (Kelenjar keringat)  merupakan kelenjar yang  menyekresikan keringat,dijumpai pada lapisan dermis atau subkutan, salurannya bermuara dipermukaan tubuh.

Keringat yang dihasilkan ini berasal dari isi pembuluh darah yang berada di sekitar kelenjar keringat tersebut. Keringat ini mengandung air,garam,urea,asam urat,dan sisa metabolisme lainnya. Pengeluaran keringat ini dipengaruhi oleh temperatur. Di mana peningkatan temperatur akan menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sel dan kemudian akan meningkatkan pembentukan keringat. Selain itu,pengeluaran keringat juga dipengaruhi oleh hipotalamus melalui sistem saraf otonom yang  mengaktifkan  saraf  simpatis,sehingga  kelenjar keringat pun menjadi lebih aktif (Asmadi, 2008 : 91).

2.1.3 Sistem Hepar

Hati (hepar) merupakan kelenjar aksesori terbesar dalam tubuh, berwarna cokelat, dan beratnya 1000-1800 gram. Hati terletak di dalam rongga perut sebelah kanan atas di bawah diafragma (Syaifuddin, 2011:546).

Gambar 3. Hati (Hepar)

 

Hepar (Liver) merupakan kelenjar besar berwarna merah gelap pada bagian atas perut sebelah kanan, tepat di bawah diafragma. Fungsinya antara lain sebagai tempat penyimpanan dan filtrasi darah, sekresi empedu, konvensi gula menjadi glikogen, dan banyak aktivitas metabolik lainnya (Kamus Saku Kedokteran Dorland, 2012:632).

Jati (2007:128) mengatakan bahwa hati berfungsi sebagai penhgstur keseimbangan nutrien dalam darah dan sebagai organ yang menyekresikan empedu. Hepar juga berperan dalam pembuangan sampah metabolisme. Kelainan pada hepar akan mengakibatkan hepar tidak mempu untuk membuang sisa nitrogen. Asam amino,yang akan digunakan sebagai energi,harus mengalami proses deaminasi dengan dibuangnya gugus amin (NH3) yang merupakan nitrogen. NH3 ini tidak bisa begitu saja dibuang oleh tubuh, tetapi harus di proses dulu di hepar menjadi ureum, urea. Sampah inilah yang akhirnya dibuang melalui keringat dan ginjal (urine) (Asmadi, 2008 : 91).

2.1.4 Sistem Endokrin

Sistem endokrin adalah suatu sistem yang bekerja dengan perantaraan zat-zat kimia (hormon) yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin merupakan kelenjar buntu  (sekresi interna) yang mengirim hasil sekresinya langsung masuk ke dalam darah dan cairan limfe, beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati duktus (saluran) (Syaifuddin, 2011:248). Hasil sekresi kelenjar tersebut dinamakan hormon endokrin.

Gambar 4. Sistem endokrin

 

Hormon endokrin di bawa oleh sistem sirkulasi ke seldi seluruh tubuh, yang meliputi sistem saraf pada beberapa keadaaan tempat hormon tersebut berikatan dengan reseptor dan memulai berbagai reaksi (Guyton&Hall, 2007:951).

Sistem endokrin juga berperan dalam eliminasi sampah metabolisme melalui pengaturan jumlah air dan natrium yang diabsorbsi kembali oleh ginjal yang berkaitan dengan jumlah cairan tubuh. Selain itu, sistem endokrin juga berperan dalam pengaturan final urine. Pengaturan final urine ini diatur oleh tiga jenis hormon yaitu antidiuretik hormon (ADH),renin,dan aldosteron.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Gambar 5. Mekanisme pengaturan cairan oleh hormon

 

 

 

 

2.1.5 Sistem Renal

Ginjal (ren) merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis, berwarna cokelat kemerahan, yang terdapat di kedua sisi kolumna vetebral posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian dalam (Potter&Perry, 2005:1679). Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ginjal kiri karena hati menduduki ruang di bagian kanan lebih luas (Asmadi, 2008:91). Setiap ginjal mempunyai panjang 11,25 cm, lebar 5-7 cm, dan tebal 2,5 cm. Sementara itu, berat ginjal pria dewasa 150-170 gram dan wanita 115-155 gram (Syaifuddin, 2009:286).

Gambar 6. Renal

 

Sistem renal merupakan nama lain sistem perkemihan. Menurut Syaifuddin (2009:285), sistem perkemihan adalah suatu sistem yang di dalamnya terhadi penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat yang tidak digunakan oleh tubuh. Zat ini akan larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine.

Potter&Perry (2005:1679) mengatakan eliminasi urine tergantung kepada fungsi ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Ginjal menyaring produk limbah dari darah untuk membentuk urine.

Proses pembentukan urine menurut Syaifuddin (2011:463), sebagai berikut:

  1. Proses Filtrasi

Pembentukan urine dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang bebas protein dari kapiler ke glomerulus dan kapsula bowman. Kebanyakan zat dalam plasma difiltrasi secara bebas kecuali protein.

Proses filtrasi (ultrafiltrasi) terjadi pada glomerulus. Proses ini terjadi karena permukaan averen lebih besar dari permukaan everen sehingga terjadi penyerapan darah. Setiap menit kira-kira 1200 ml darah, terdiri dari 450 ml sel darah dan 660 ml plasma masuk ke dalam kapiler glomerulus.

 

  1. Proses Absorbsi

Gambar 7. Proses pembentukan urine

 

Penyerapan kembali sebagian besar terhadap glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Proses ini terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi dan terjadi pada tubulus atas. Dalam tubulus ginjal, cairan filtrasi dipekatkan dan zat yang penting bagi tubuh direabsorpsi.

Jumlah total air yang diabsorbsi lebih kurang 120 ml/menit, 70-80% diabsobsi oleh tubulus proksimal, disebut juga reabsorbsi air obligatori. Sisanya, 20-30% diabsorbsi secara fakultatif dengan bantuan hormon vasopresin (ADH, hormon antidiuretik) di tubulus distal. Sebagian kecil sisanya diabsorbsi pada duktus koligen yaitu saluran tempat bermuaranya tubulus distal.

  1. Proses Sekresi

Tubulus ginjal dapat mensekresi atau menambah zat-zat ke dalam cairan filtrasi selama metabolisme sel-sel membentuk asam dalam jumlah besar.

Hasil masing-masing proses pembentukan urine yaitu, urine primer (filtrat glomerulus) pada proses filtrasi, urine sekunder pada proses absorbsi dan urine sesungguhnya pada proses sekresi.

Menurut Asmadi (2008:93), ciri-ciri urine normal baik secara sifat maupun fisik, antara lain:

a)      Kejernihan

Urine normal jernih/bening dan bila lama dibiarkan akan menjadi keruh.

b)      Warna

Warna urine dipengaruhi oleh diet, obat-obatan, kepekatan, dan lain-lain. Secara normal urine berwarna kuning.

c)      Bau

Bau khas urine bila dibiarkan terlalu lama akan berbau seperti amonia.

d)     Berat Jenis

Berat jenis urine bergantung pada jumlah zat yang terlarut dalam urine.

 

Eliminasi sampah metabolisme lainnya adalah eliminasi bilirubin yang terkonjugasi yang merupakan sisa pemecahan eritrosit yang sudah tua (Asmadi, 2008:95). Bilirubin yang terkonjugasi ini disimpan di dalam empedu dan karena perangsangan pengeluaran kolesistokinin, bilirubin tersebut masuk ke duodenum. Bilirubin merupakan pigmen yang memberikan warna cokelat kekuningan pada feses (Jati, 2007:128).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Gambar 9. Eliminasi eritrosit

 

 

 

2.2 Eliminasi Sisa Pencernaan

Setiap organisme memerlukan makanan untuk tetap dapat menjaga kelangsungan hidupnya. Aktivitas makan dilakukan semua makhluk hidup tigak memandang usia, spesies dan jenis kelamin. Makanan yang dikonsumsi akan dicerna oleh tubuh melalui beragam proses (Jati, 2007:114).

Menurut Syaifuddin (2011:504), sistem organ pencernaan adalah sistem organ yang menerima makanan, mencerna untuk dijadikan energi nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut.

Gambar 9. Kolon

 

Pengeluaran sisa proses pencernaan disebut eliminasi sisa pencernaan. Potter & Perry (2005:1739) mengatakan bahwa eliminasi produk sisa pencernaan yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada sistem gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya.

Organ yang berkaitan demgam eliminasi siasa pencernaan (eliminasi sampah digestif adalah kolon atau usus besar.Kolon merupakan bagian bawah saluran pencernaan yang meliputi sekum, kolon asenden, kolon transversum, kolon desenden, kolon sigmoid, rektum dan anus. Panjang kolon pada orang dewasa ± 1,5 meter.

Berikut dijelaskan tentang proses pembentukan feses, eliminasi fekal, pola defekasi, dan karakteristik feses yang dikutip dari Asmadi (2008).

2.2.1 Proses pembentukan feses

Sekitar 750 cc chyme masuk ke kolon dari ileum. Di kolon, chyme tersebut mengalami proses absorbsi air, natrium, dan kloride. Absorbsi ini dibantu dengan adanya gerakan peristaltik usus. Dari 750 cc chyme tersebut, sekitar150-200 cc mengalami proses reabsorbsi. Chyme yang tidak diabsorbsi menjadi bentuk semisolid yang disebut feses. Selain chyme, adanya fermentasi zat makanan yang tidak dicerna menghasilkan gas yang dikeluarkan melalui anus setiap harinya yang dikenal dengan istilah flatus.

 

2.2.2 Proses eliminasi fekal (defekasi)

Eliminasi fekal bergantung pada gerakan kolon dan dilatasi spinchter ani. Kedua faktor tersebut dikontrol oleh sistem saraf parasimpatis. Gerakan kolon meliputi tiga gerakan yaitu gerakan mencampur, gerakan peristaltik, dan gerakan massa kolon. Gerakan massa kolon ini dengan cepat mendorong feses dari kolon ke rektum.

Begitu ada feses yang sampai di rektum, maka ujung saraf sensoris yang berada pada rektum menjadi regang dan terangsang. Kemudian impuls ini diteruskan ke medula spinalis. Setelah itu, impuls dikirim ke korteks serebri serta sakral II dan IV. Impuls dikirim ke korteks serebri agar indivisu menyadari keinginan buang air besar. Impuls dikirim ke sakral II dan IV, selanjutnya dikirim ke saraf simpatis untuk mengatur membuka sphincter ani interna. Terbukanya sphincter ani tersebut menyebabkan banyak feses yang masuk ke dalam rektum. Kemudian terjadi proses defekasi dengan mengendornya sphincter ani eksterna dan tekanan yang mendesak feses bergerak oleh kontraksi otot perut dan diafragma.

2.2.3 Pola defekasi

Waktu defekasi dan jumlah feses bersifat  individual. Orang dalam keadaan normal, frekuensi buang air besar 1 kali sehari. Pola defekasi individu juga bergantung pada bowel training  yang dilakukan pada masa kanak-kanak.

Umumnya, jumlah feses bergantung pada jumlah intake makanan. Namun, secara khusus, jumlah feses sangatlah bergantung pada kandungan serat dan cairan pada makanan yang dimakan.

2.2.4 Karakteristik feses

Karakteristik feses pada setiap perkembangan manusia berbeda. Lihat tabel!

 

Tabel.1. Karakteristik Feses

Karakteristik

Normal

Abnormal

Warna

Bayi: kuning

Orang Dewasa: cokelat

Putih atau warna tanah liat

Hitam atau warna ter (melena)

Merah

Konsistensi

Lunak, berbentuk

Cair Padat

Frekuensi

Bervariasi: bayi 4-6 kali sehari (jika mengonsumsi ASI) atau 1-3 kali sehari; orang dewasa 1 kali sehari atau 2-3 kali seminggu

Bayi lebih dari 6 kali sehari atau dari satu kali setiap 1-2 hari; orang dewasa lebih dari 3 kali sehari atau kurang dari satu kali seminggu.

Bentuk

Menyerupai diameter rektum

Berbentuk pensil

Unsur-unsur

Makanan tidak dicerna, bakteri mati, lemak, pigmen empedu, sel-sel yang melapisi mukosa usus dan air

Darah, pus, materi asing, lendir, dan cacing

 

2.3 Faktor yang Memengaruhi Eliminasi

Ada beberapa faktor yang memengaruhi eliminasi metabolisme dan sisa pencernaan, yaitu:

1)      Usia

Usia berpengaruh pada kontrol eliminasi individu. Anak-anak masih belum mampu mengontrol buang air besar dan buang air kecil karena siste, neuromuskulernya belum berkembang dengan baik. Pada lansia proses eliminasi juga berubah karena terjadi penurunan  tonus otot.

2)      Diet

Gambar 10. Makanan berserat

 

Makanan merupakan faktor utama yang berpengaruh pada eliminasi fekal dan urine. Makan yang teratur sangat berpengaruh pada keteraturan defekasi. Selain itu, terjadinya malnutrisi menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi yang menyerang organ perkemihan  maupun organ pencernaan.

3)      Cairan

Intake cairan berpengaruh  pada eliminasi fekal dan urine. Apabila intake cairan kurang dan output cairan berlebihan, maka tubuh menyerap air lebih banyak dari usus besar sehingga feses menjadi keras dan sulit keluar. Sementara itu, pada eliminasi urine, urine menjadi berkurang dan lebih pekat.

4)      Latihan Fisik

Latihan fisik membantu seseorang untuk mempertahankan tonus otot. Hal ini sangat penting bagi defekasi (pembuangan feses)  dan miksi (pembuangan urine). Latihan fisik juga merangsang terhadap timbulnya paristaltik.

5)      Stres Psikologis

Gambar 11. Stres

 

Ketika seseorang sedang mengalami ketakutan atau kecemasan, terkadang ia mengalami diare atau beser. Namun, ada juga yang mengalami susah buang air besar.

6)      Temperatur

Jika temperatur tubuh tinggi, maka terjadi penguapan cairan tubuh. Hal itu  menyebabkan kekurangan cairan, sehingga terjadi konstipasi dan pengeluaran urine yang sedikit.

7)      Nyeri

Nyeri berpengaruh terhadap pola eliminasi. Seseorang yang berada dalam keadaan  nyeri sulit untuk makan, diet yang seimbang, maupun untuk melakukan latihan fisik.

8)      Obat-obatan

Beberapa obat memiliki efek samping yang berpengaruh terhadap eliminasi. Ada obat yang menyebabkan diare, konstipasi maupun inkontinensia (Asmadi,2008:97-98).

 

2.4 Pengkajian Kebutuhan Eliminasi

1)      Aspek biologis

a)      Usia

b)      Aktivitas fisik

c)      Riwayat kesehatan dan diet

d)     Penggunaan obat-obatan

e)      Pemeriksaan fisik : Eliminasi urine dan eliminasi fekal

f)       Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan urine (warna, kejernihan, bau dan pH) dan pemeriksaan feses.

2)      Aspek Psikologis

Stres emosional dapat menimbulkan gangguan pada eliminasi. Stres dapat menyebabkan seseorang terdorong untuk terus berkemih, sehingga frekuensi berkemih meningkat. Selain itu, kecemasan yang dialami seseorang dapat membuat individu tidak mampu berkemih sampai tuntas. Pengaruh ansietas pada eliminasi fekal dapat meningkatkan peristaltik sehingga timbul diare (Asmadi, 2008:100).

3)      Aspek Sosiokultural

Menurut Asmadi (2008:100), adat istiadat terkait dengan eliminasi perlu dikaji, seperti posisi berkemih bagi sebagian kultur mesti dilakukan dengan posisi berjongkok, adapula dengan berdiri. Begitu pula dengan eliminasi fekal, ada yng buang air besar di WC, kali, kebun dan lain-lain. Nilai-nilai masyarakat pun perlu dikaji yang  terkait dengan eliminasi.

4)      Aspek Spiritual

Keyakinan individu terkait dengan eliminasi perlu dikaji, seperti urine dan feses diyakini sebagai sesuatu yang najis sehingga perlu dibersihkan dengan air. Ada pula individu yang cukup membersihkannya dengan tisu. Keyakinan ini juga berhubungan dengan praktek kultural setempat.

 

2.5 Metode Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi

Eliminasi merupakan proses pembuangan sampah atau kotoran yang terdapat di dalam tubuh. Kotoran ini bersifat toksin, jika tidak segera dibuang makan dapat meracuni fubuh dan akhirnya menyebabkan kematian.Namun, tidak selamanya eliminasi berjalan dengan lancar, terkadang mengalami hambatan baik pada eliminasi fekal maupun urine. Gangguan atau hambatan tersebut bila tidak segera ditanggulangi dapat mengganggu keseimbangan tubuh.

Perawat sebagai tenaga kesehatan yang profesional harus mampu mengidentifikasi gangguan yang terjadi pada eliminasi serta dapat menanggulanginya. Oleh karena itu, perawat harus mampu melakukan beberapa tindakan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan eliminasi. Seperti yang dinyatakan Asmadi (2008:101), tindakan tersebut antara lain:

a)      Membantu pengeluaran feses secara manual

b)      Penggunaan pispot atau urinal

c)      Kateterisasi (pemasangan selang kateter)

d)     Irigasi kandung kemih

e)     

Gambar 12. Pispot (atas untuk perempuan; bawah untuk Pria)

 

Bladder training (latihan otot-otot vesika urinaria)

f)       Melakukan huknah (enema) (memasukkan cairan pencahar ke rektum dan kolon)

 

2.6 Gangguan Proses Eliminasi

2.6.1 Gangguan eliminasi urine

Klien yang memiliki masalah perkemihan paling sering mengalami gangguan dalam aktivitas berkemihnya. Gangguan ini diakibatkan oleh kerusakan fungsi kandungan kemih, adanya obstruksi pada aliran urine yang mengalir keluar, atau ketidakmampuan mengontrol berkemih secara volunter. Beberapa klien dapat mengalami perubahan sementara atau permanen dalam jalur normal ekskresi urine. Klien yang menjalani diversi urine memiliki masalah khusus karena urine keluar melalui sebuah stoma (Potter&Perry, 2005:1686).

Tabel 2. Gejala Umum pada Perubahan Perkemihan

Gejala

Deskripsi

Penyebab atau Faktor Terkait

Urgensi

Merasakan kebutuhan untuk segera berkemih

Penuhnya kandung kemih, iritasi atau radang kandung kemih akibat infeksi, sphincter uretra tidak kompeten, stres psikologis.

Disuria

Merasa nyeri atau sulit berkemih

Peradangan kandung kemih, trauma atau inflamasi sphincter uretra

Frekuensi meningkat

Berkemih dengan sering

Peningkatan asupan cairan, radang pada kandung kemih, peningkatan tekanan pada kandung kemih (kehamilan, stres psikologis)

Keraguan berkemih

Sulit memulai berkemih

Pembesaran prostat, ansietas, edema uretra

Poliuria

Mengeluarkan sejumlah besar urine

Asupan cairan berlebihan, diabetes melitus atau insipidus, penggunaan diuretik, diuresis pascaobstruktif

Oliguria

Pengeluaran urine menurun dibandingkan cairan yang masuk (biasanya kurang dari 400 ml dalam 24 jam)

Dehidrasi, gagal ginjal, ISK, peningkatan sekresi ADH, gagal jantung kongestif

Nokturia

Berkemih berlebihan atau sering pada malam hari

Asupan cairan berlebihan sebelum tidur (terutama kopi atau alkohol), penyakit ginjal, proses penuaan

Dribling (urine yang menetes)

Kebocoran/rembesan urine walaupun ada kontrol terhadap pengeluaran urine

Stres inkontinensia, overflow akibat retensi urine

Hematuria

Terdapat dalah dalam urine

Neoplasma pada ginjal atau kandung kemih, penyakit glomerulus, infeksi pada ginjal atau kandung kemih, trauma pada struktur perkemihan, diskrasia darah

Retensi Urine

Akumulasi urine di dalam kandung kemih disertai ketidakmampuan kandung kemih untuk benar mengosongkan diri

Obstruksi uretra, inflamasi pada kandung kemih, penurunan aktivitas sensorik, kandung kemih neurogenik, pembesaran prostat, setelah tindakan anestesi, efek samping obat-obatan

Residu Urine

Volume urine tersisa setelah berkemih (volume 100 ml atau lebih)

Inflamasi atau iritasi mukosa kandung kemih akibat infeksi, kandung kemih neurogenik, pembesaran prostat, trauma atau inflamasi uretra

 

2.6.2 Gangguan eliminasi sisa pencernaan

Gangguan pada eliminasi sampah digestif atau sisa pencernaan menurut Potter & Perry (2005:1746), sebagai berikut:

a)      Konstipasi

Konstipasi merupakan gejala, bukan penyakit. Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi, yang diikuti oleh pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering. Adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi. Apabila motilitas usus halus melambat, masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian besar kandungan air dalam feses diabsorbsi. Sejumlah kecil air ditinggalkan untuk melunakkan dan melunasi feses. Pengeluaran feses yang kering dan keras dapat menimbulkan nyeri pada rektum.

b)      Impaksi

Impaksi feses merupakan akibat dari konstipasi yang tidak diatasi. Impaksi adalah kumpulan feses yang mengeras, mengendap di dalam rektum, yang tidak dapat diluarkan. Pada kasus impaksi berat, massa dapay lebih jauh masuk ke dalam sigmoid. Klien menderita kelemahan, kebingungan, atau tidak sadar adalah klien yang paling beresiko mengalami impaksi.

Tanda impaksi yang jelas ialah ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses selama beberapa hari walaupun terdapat keinginan berulang untuk melakukan defekasi.

c)      Diare

Diare adalah peningkatan jumlah feses dan peningkatan pengeluaran feses yang cair dan tidak berbentuk. Diare adalah gejala gangguan yang memengaruhi proses pencernaan, absorpsi, dan sekresi di dalam saluran GI. Isi usus terlalu cepat keluar melalui usus halus dan kolon sehingga absorbsi cairan yang biasa tidak dapat berlangsung. Iritasi di salam kolon dapat menyebabkan peningkatan sekresi lendir. Akibatnya, feses menjadi lebih encer sehingga klien menjadi tidak mampu mengontrol keinginan untuk defekasi.

d)     Inkontinensia

Inkontinensia feses adalah ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses dan gas dari anus. Kondisi fisik yang merupakan fungsi atau kontrol sphincter anus dapat menyebabkan inkontinensia. Kondisi yang membuat seringnya defekasi, feses encer, volumenya banyak, dan feses mengandung air juga mempredisposisi individu untuk mengalami inkontinensia.

e)      Flatulen

Flutulen adalah penyebab umum abdomen menjadi penuh, terasa nyeri, dan kram. Dalam kondisi normal, gas dalam usus keluar melalui mulut (bersendawa) atau melalui anus (pengeluaran flatus). Namun, jika ada penurunan motilitas usus akibat penggunaan opiat, agens anestesi umum, bedah abdomen, atau imobilisasi, flatulen dapat menjadi cukup berat sehingga menyebabkan distensi abdomen dan menimbulkan nyeri yang terasa sangat menusuk.

f)       Hemoroid

Hemoroid adalah vena-vena yang berdilatasi, membengkak di lapisan rektum. Ada dua jenis hemoroid, yakni hemoroid internal atau hemoroid eksternal. Hemoroid eksternal terlihat jelas ebagai penonjolan kulit, apabila lapisan vena mengeras, akan terjadi perubahan warna menjadi keunguan. Hemoroid internal memiliki membran mukosa di lapisan luarnya. Peningkatan tekanan vena akibat mengedn saat defekasi, selama masa kehamilan, pada gagal jantung kongestif, dan penyakit hati kronik dapat menyebabkan hemoroid.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta:Salemba Medika.

Dorland, W.A. New. 2012. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta:EGC.

Guyton, Arthur C. dan John E. Hall. 2007. Fisiologi Kedokteran. Jakarta:EGC.

Jati, Wijaya. 2007. Aktif Biologi. Jakarta: Ganeca Exact.

Potter, Patricia A. dan Anne Griffin P. 2005. Fundamental Keperawatan Vol.2. Jakarta: EGC.

Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi untuk keperawatan dan kebidanan. Jakarta:EGC.

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s