Mitos Diabetes

Diabetes disebut juga penyakit gula…

Diabetes ada dua… diabetes basah dan diabetes kering. keduanya sama-sama penyakit yang tidak bisa disembuhkan hanya bisa dicegah..

Dalam media edukasi yang digelar Roche, Rabu (19/9), dengan tema “Perspektif Baru Dalam Diabetes: Bukan Hanya Urusan Gaya Hidup” dikatakan bahwa selama ini masih banyak masyarakat yang terjebak  akan mitos yang beredar.

Salah satunya yang paling umum didengar adalah larangan mengkonsumsi gula sama sekali bagi diabetesi. Padahal fakta yang benar seprti itu, dimana diabetesiharus mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat sederhana seperti coklat dan permen. Namun mereka masih dapat menikmati dessert selayaknya orang normal asal dengan porsi yang terkontrol.

Mitos lain yang sering ditemukan juga menyebutkan bahwa diabetesi mudah terserang penyakit dan cenderung berumur pendek dibandingkan penyakit lainnya karena dampak komplikasi yang menyertai diabetes. Faktanya, apabila diabetes dikelola dengan baik dan kadar gula darah dijaga mendekati ideal, diabetisi bisa hidup normal. Bahkan dapat melakukan berbagai aktivitas yang sering dianggap tidak mungkin bagi orang lain seperti mendaki gunung, bermain ski, menyelam, atau yang lainnya.

“Pemeriksaan gula darah mandiri merupakan suatu usaha yang penting dalam pengendalian diabetes. Dengan melakukannya secara teratur, diabetesi dapat makan dan beraktivits lainnya seperti biasa. Tapi jangan lupa juga untuk mencatat hasil setiap tes yang dilakukan kedalam buku catatan gula darah. Data tersebut nantinya akan sangat berguna sebagai informasi bagi dokter dalam mengambil keputusan medis maupun merubah pola terapi bagi diabetesi,” jelas dr. Adhiarta, ahli diabetes dari RS Hasan Sadikin

Berikut ini adalah beberapa mitos dan fakta keliru tentang penyakit diabetes.  Mitos diabetes yang berkembang memang banyak, informasi yang dirangkum dari berbagai sumber:  

Mitos: Diabetes bukan penyakit yang serius.

Fakta: Dalam satu tahun, diabetes menyebabkan kematian lebih banyak daripada kanker payudara yang digabungkan dengan AIDS. Dua dari tiga penderita diabetes meninggal karena penyakit jantung atau stroke.

Mitos: Jika Anda kelebihan berat badan atau obesitas, Anda berisiko terkena diabetes tipe 2.

Fakta: Kelebihan berat badan merupakan faktor risiko menjadi penyakit ini, tetapi faktor risiko lain seperti sejarah keluarga, etnis dan usia juga berperan. Sayangnya, terlalu banyak orang mengabaikan faktor-faktor risiko lain untuk diabetes dan berpikir hanya berat badan yang merupakan faktor risiko untuk terjadinya diabetes tipe 2. Padahal, kebanyakan orang kelebihan berat badan tidak terkena diabetes tipe 2, dan banyak orang dengan diabetes tipe 2 berada pada berat badan normal.

Mitos: Makan terlalu banyak gula menyebabkan diabetes.

Fakta: Tidak! Diabetes tipe 1 disebabkan faktor genetik dan tidak diketahui yang memicu timbulnya penyakit in, sedangkan diabetes tipe 2 disebabkan faktor genetik dan gaya hidup. Kelebihan berat badan tidak meningkatkan risiko Anda ke arah diabetes tipe 2, dan pola makan tinggi kalori -baik dari gula atau lemak dapat berkontribusi terhadap berat badan. Jika Anda memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, maka pola makan sehat dan olahraga teratur sangat dianjurkan untuk mengelola berat badan Anda.

Mitos: Orang dengan diabetes harus makan makanan khusus untuk diabetes.

Fakta: Diet untuk penderita diabetes umumnya sama dengan untuk orang sehat, yaitu rendah lemak (terutama lemak jenuh dan lemak trans), moderat dalam penggunaan garam dan gula, dan makanan berdasarkan karbohidat kompleks, sayuran dan buah.

Mitos: Penderita diabetes hanya boleh mengonsumsi makanan bertepung, seperti roti, kentang dan pasta, dalam jumlah sedikit.

Fakta: Roti gandum utuh, sereal, pasta, nasi dan tepung dari kentang, ubi jalar, kacang polong dan jagung dapat dimasukkan dalam menu makanan utama dan makanan selingan Anda. Kuncinya, ukuran porsi. Tanyakan pada ahli gizi Anda berapa kebutuhan karbohidrat Anda per hari, karena tiap individu penderita diabetes mempunyai kebutuhan yang berbeda.

Mitos: Penderita diabetes tidak boleh makan permen atau cokelat.

Fakta: Jika dikonsumsi sebagai bagian dari rencana makan sehat Anda atau dikombinasikan dengan olahraga, permen dan makanan penutup dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes. Makanan seperti ini sebenarnya sama “terlarangnya” atau sebaiknya dibatasi bagi orang sehat seperti halnya penderita diabetes.

Mitos: Anda bisa tertular diabetes dari orang lain.

Fakta: Tidak! Diabetes tidak menular seperti pilek atau flu. Diabetes lebih disebabkan faktor genetik, meski pada diabetes tipe 2 dipengaruhi juga gaya hidup yang kurang sehat, seperti mengonsumsi makanan tinggi kalori serta kurang bergerak.

Mitos: Orang dengan diabetes lebih mudah terkena pilek dan penyakit lainnya.

Fakta: Kemungkinan orang yang diabetes terkena pilek atau penyakit lain sama saja dengan orang sehat. Namun, orang dengan diabetes memang disarankan mendapat vaksinasi flu, karena bila terkena flu lebih rentan terjadi komplikasi.

Mitos: Jika dokter mengatakan pada Anda yang memiliki diabetes tipe 2 harus mulai menggunakan insulin, itu artinya Anda telah gagal mengelola diabetes Anda.

Fakta: Bagi kebanyakan orang, diabetes tipe 2 adalah penyakit progresif. Ketika pertama kali didiagnosis, banyak orang dengan diabetes tipe 2 dapat menjaga glukosa darah mereka pada tingkat yang sehat dengan obat-obatan oral. Namun seiring waktu, tubuh secara bertahap kurang menghasilkan insulin, dan obat oral pun tidak cukup untuk menjaga kadar glukosa darah normal. Menggunakan insulin untuk mendapatkan kadar glukosa darah yang sehat adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk.

Mitos: Penderita diabetes boleh makan buah sebanyak-banyaknya.

Fakta: Buah adalah makanan sehat, mengandung serat dan banyak vitamin serta mineral. Namun, karena buah juga mengandung karbohidrat, maka tetap harus dimasukkan dalam rencana makan sehat Anda. Bicaralah dengan ahli gizi mengenai jumlah, frekuensi dan jenis buah yang Anda harus makan.

Mitos : Diabetes diturunkan menyilang, dari ibu ke anak lelakinya, atau dari ayah ke anak perempuannya.

Faktanya: Punya riwayat keluarga menderita diabetes memang menaikkan resiko diabetes. Tetapi, punya golongan darah yang sama dengan ayah belum tentu membuat Anda otomatis terkena diabetes. Demikian juga diabetes yang ditularkan secara menyilang hanya mitos. Terkena diabetes atau tidak itu tergantung pola makan dan gaya hidup. Kalau gaya hidup yang diikuti sehat, risiko diabetes dapat dihindari.

Mitos : Diabetes itu penyakit orang tua

Faktanya: Diabetes yang diderita orang tua berlaku untuk diabetes tipe 2, karena pada umumnya dijumpai pada orang dewasa. Tapi, kini semakin banyak anak dan remaja yang didiagnosis menderita diabetes tipe 2 terutama mereka yang mengalami kelebihan berat badan. Diabetes bisa menimpa usia berapa saja, meski paling banyak menimpa orang berusia di atas 40 tahun. Namun, karena perubahan gaya hidup modern yang kurang sehat membuat prevalensi penderita diabetes berusia 20 tahun atau 30 tahun.

Mitos : Sering makan manis menyebabkan diabetes

Faktanya : Diabetes tipe I disebabkan faktor genetik dan masih terus diteliti pemicunya. Sedangkan diabetes tipe 2 disebabkan faktor genetik yang dipicu gaya hidup tidak sehat. Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan sel-sel di pankreas yang memproduksi insulin, yang tidak berhubungan dengan konsumsi gula. Diet tinggi kalori, baik dari gula atau dari lemak, dapat meningkatkan berat badan yang pada akhirnya meningkatkan resiko terkena diabetes tipe 2.

Mitos : Penyandang diabetes harus berhenti total konsumsi gula

Faktanya: Jika dikonsumsi sebagai bagian dari rencana diet yang sehat atau dikombinasikan dengan olahraga, makanan dan minuman manis boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes. Namun, meski bukan pantangan, penderita diabetes tetap perlu membatasi makanan minuman yang manis. Untuk menjaga glukosa darah, makanan atau minuman yang manis sebaiknya dikonsumsi setelah makanan rendah karbohidrat, itupun dibatasi. Kemudian, jangan lupa lakukan cek gula darah untuk memonitor perubahan glukosa tubuh.

Mitos : Diabetes bisa sembuh

Faktanya: Kadangkala individu mengira bahwa gula darah yang selalu stabil dan normal dalam jangka waktu lama, dianggap diabetesnya sembuh. Padahal, gangguan fungsi pankreas sifatnya permanen dan irreversible. Diabetes memang tidak dapat disembuhkan, namun dengan pengelolaan yang baik maka gula darah dapat dijaga tetap normal. Gula darah yang dijaga dalam batas normal membuat penyandang diabetes tidak berbeda sama sekali dengan orang sehat, serta menjauhkan diabetisi dari resiiko komplikasi.

Mitos : Obat tradisional lebih baik dari obat dokter

Faktanya: Beda obat tradisional dengan obat medis yang paling mencolok adalah adanya bukti penelitian klinis atau tidak. Setiap obat modern yang beredar di pasaran telah melewati fase uji klinis. Berbeda obat tradisional umumnya tidak mengalami fase uji klinis, sehingga belum diketahui secara ilmiah dampaknya bagi manusia.

Mitos : Penyandang diabetes tidak perlu alat ukur khusus

Faktanya: Gejala seseorang yang mengalami gula darah tinggi atau hiperglikemia bisa jadi dirasakan. Namun, justru banyak pula pasien diabetes melaporkan mereka tidak menyadari sama sekali. Jika tidak diukur, kondisi hiperglikemia ekstrim berpotensi menimbulkan ketoasidosis yang bisa mengakibatkan koma pada pasien.

Mitos : Diabetes bikin umur pendek

Faktanya: Orang dengan diabetes memang disarankan mendapat vaksinasi flu. Hal ini dikarenakan penyakit apapun yang menimbulkan infeksi, bisa menyebabkan diabetes lebih sulit dikontrol. Sehingga lebih rawan untuk mengalami hiperglikemia yang bisa memacu perkembangan komplikasi serius. Dengan pola makan dan gaya hidup sehat, penyandang diabetes  bisa mengurangi risiko terkena berbagai macam penyakit.

Mitos : Pakai insulin, diabetes berarti sudah parah

Faktanya: Hal ini hanya berlaku untuk pasien diabetes tipe I. Untuk penderita diabetes tipe II, biasanya dapat menjaga glukosa darah dengan menjaga pola makan dan berolahraga. Apabila itu tidak cukup, dokter menyarankan pasien untuk mengonsumsi obat oral penurun glukosa. Seiring waktu, tubuh pasien bertahap menghasilkan insulin lebih sedikit dan akhirnya obat-obatan tidak cukup menjaga kadar glukosa darah yang normal. Suntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah ke tingkat normal.

Mitos : Yang paling penting menjaga gula darah puasa

Faktanya: Gula darah tinggi baik sebelum atau sesudah makan sama bahayanya untuk jangka panjang. Gula darah yang tinggi sesudah makan merupakan pemicu utama bagi timbulnya komplikasi makrovaskuler (gangguan jantung dan pembuluh darah). Banyak penyandang diabetes meninggal karena komplikasi jantung dan pembuluh darah.

Mitos : Diabetes tidak sepenuhnya mengerti makanan

Fakta : Terlalu banyak mengonsumi makanan yang mengandung gula tak melulu dapat dijadikan penyebab utama seseorang terkena penyakit ini. Kelebihan berat badan, menjalani gaya hidup yang tak sehat, dan riwayat keturunan, justru lebih berpotensi mampu menaikan gula darah.

Oleh karena itu, tak menjadi masalah jika Anda makan sering dengan porsi kecil, ditambah dengan menjaga berat badan dan berolahraga secara teratur, serta pemeriksaan mandiri.

Tentunya semua hal tersebut dapat membantu Anda melihat tingkat gula darah dalam tubuh Anda. Jika gula darah mulai tinggi, Anda dapat mengonsultasikan diri ke dokter untuk pengobatan lebih lanjut.

Mitos : Diabetes tak boleh makan makanan favoritnya

Kuncinya hanya satu, yaitu moderasi atau pengaturan. Cobalah untuk mengubah proses penyajian makanan favorit Anda. Misalnya Anda sangat menyukai gorengan, Anda dapat mengganti minyak goreng dengan minyak zaitun.

Minyak ini selain rendah lemak jenuh juga baik untuk jantung. Disamping itu, Anda juga dapat mengurangi porsi pada makanan favorit Anda.

Mitos : Tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung lemak dan gula

Faktanya tak se-menderita apa yang telah dikatakan orang pada umumnya. Pada setiap makanan, sertakan sedikitnya 14gr serat untuk tiap 1000kkal yang di konsumsi. Ini dikarenakan, makanan tinggi serat dapat membantu menurunkan kolesterol darah.

Adapun lemak yang harus dikurangi seminimal mungkin adalah lemak jenuh yang terdapat pada daging merah, mentega, dan produk susu, serta kuning telur. Dengan begitu Anda dapat terhindar peningkatkan kolesterol.

Sumber serat sederhana dan terbaik ada pada makanan seperti oat, roti gandum, kacang kering, kacang polong, buah-buahan, serta sayur-sayuran.

Mitos : Jangan mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat

Jangan takut untuk mengonsumi makanan yang mengandung karbohidrat, seperti beras dan kentang. Faktanya gandum memang lebih disukai karena kandungan seratnya, akan tetapi beras juga dapat dikonsumsi pula, yaitu mencampurnya dengan sayuran.

Berlawanan dengan kepercayaan yang telah ada, bahwa karbohidrat harus dihindarkan. Mengutip Times of India, setidaknya 60 persen kalori dalam tubuh kita harus berasal dari karbohidrat.
Indeks gula normal harus dipertahankan dengan makan makanan yang mengandung protein dan tinggi serat. Ini dikarenakan indeks gula nantinya akan menunjukkan seberapa cepat dan seberapa tinggi makanan dapat meningkatkan glukosa darah Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s