IJINKAN AKU

“Halllooooo…..semuaaaanyaaaaa…. met Pagi….”

Sapaan Firda membuat cewe tidak berjilbab ini kaget setengah mati. Maklumlah…suaranya melengkiiiing. Namanya Tyan Anggraini Alamsyah Biasanya, dipanggil Tyan. Sekarang ia baru duduk di kelas X-2 sekolah menengah atas ternama di kotanya, yaitu SMAN 1 Nusantara. Di sekolah barunya ini, Tyan punya teman baru bernama Firdausi Isnaini (Firda) dan Zahilda Sari (Hilda). Walau mereka baru kenal saat Masa Orientasi Siswa, mereka terbilang sudah cukup akrab. Kemana-mana selalu bersama.

 

Hari ini, tepat minggu ketiga putri sulung dari tiga bersaudara ini mengikuti upacara di SMANUSA. Selesai upacara, Tyan dan kedua sahabatnya kehausan, mereka putuskan pergi ke kantin sekolah. Sekembalinya dari kantin, kelas X-2 disulap menjadi ruang makan. Rata-rata di tiap meja ada berbagai macam makanan. Untung saja bangku Hilda dan Tyan tidak ada yang menempati, jadi mereka pun menyulap bangku itu menjadi meja makan.

 

Berbagai macam obrolan menghiasi acara makan-makan kecil-kecilan itu. Tiba-tiba, Tyan tersedak.

 

“Heii…kau ini, pelan-pelan… ayoo minum dulu…” Firda memberi minuman pada Tyan.

 

Tyan mengambilnya. Namun, matanya tertuju pada arah lain. Batinnya berkata, ‘Orang itu…apakah itu diaaa?? Ahh tidak mungkin…hanya mirip..’

 

“Uwwwoouuyyy…kok bengong…?? ayo diminum!”

“Eee…ee…iyaa, Fir. Maaf.”

“Kamu lihat apaan sih, Yan?” Hilda yang sedari tadi makan, akhirnya buka suara juga.

“Aaa…aaa..aannuuu… itu…” Tyan menunjuk cowo yang telah membuatnya tersedak itu.

Firda dan Hilda menoleh ke arah yang ditunjuk.

“Ada apa dengannya?” tanya Firda.

“Didi. Iyaaa…dia mirip Didi. Mantanku yang pernah aku ceritakan padamu.” Jawab Tyan sambil mengamati wajah cowo itu.

“Haaahh?? Iyaaa thaaaaa…???” ucap Hilda dan Firda serempak.

Tyan hanya bisa mengangguk. Rasa kagetnya membuatnya susah berkata-kata.

 

***

 

Seminggu berlalu, setelah diselidiki cowo itu siswa di kelas sebelah. Kebetulan Tyan punya teman (dulu satu SMP) di kelas itu.

Suatu hari, dengan malu-malu dia bertanya pada Niky, “Nik… itu siapa namanya?”

“Yang mana?”

“cowo yang jalan pake’ topi thuu…”

“Ooh… itu… namanya Ari Saputra. Kenapa kau menanyakannya?”

“Aaah… tidak…. Hanya ingin tahu saja.”

 

Tyan kembali ke kelasnya. Dia lagi-lagi memikirkan si AS itu.

‘Tidak. Tidak. Dia tidak mirip Didi. Mereka berbeda. Dia manis. Senyumnya…menarik.’

 

“Huuuaaaa….Firdaaaa….”

Firda yang berada di sampingnya kaget. “Waaaah…kau ini…. kecilkan volumemu!”

Tyan tak menghiraukan perkataan sahabatnya. Dia menghampiri Firda. “Tidak. Mereka tidak mirip. Cowo itu…diaa maniiiisss… apakaaah aku diijinkan menyayanginya?”

“uuuukkhh… kau ini. Kau ada hati dengannya? Dassaaarrr… gak bisa lihat cowo manis dikit.” Ujar Firda sambil menjitak kepala Tyan.

“Aaaduuuh…sakiitt…tauuu’…”

 

***

Sebulan sudah terlewati, dua tahun sudah dilalui. Tyan dan sahabatnya telah naik ke kelas XII. Kini Mereka terpisah. Tyan dan Firda sekelas. Sementara Hilda berada di kelas tetangga. Dan yang membuat Tyan heran, Cowo itu tetap saja menyita perhatiannya.

 

Tiiing Tooong…

Bel masuk berbunyi. Semua siswa kelas XII IPA2 masuk kelas. Hari itu hari pertama masuk setelah libur panjang kenaikan kelas selama 3 minggu. Tyan tak hanya sekelas dengan Firda, tapi dia juga sekelas dengan Niky. Tyan putuskan duduk bersama Niky. Satu per satu siswa-siswi masuk. Di antara gerombolan siswa yang berebut masuk, ada cowo yang familiar di ingatan Tyan. Cowo itu memilih tempat duduk tepat di depan bangkunya.

 

“Kamu di sini juga, Nik?” tanya cowo itu pada Niky.

“Iya, Ri. Kamu juga?”

“He’eumb.”

 

Ya. Ari Saputra. Cowo itu kini sekelas dengan Tyan.

***

 

“aaaauuuwww… sakiit…”, jerit Tyan.

“heeeh…kau kenapa?”, tanya Niky yang duduk di sebelahnya.

 

Tyan tak menjawab. Dia bengong, masih tak percaya dengan kenyataan yang telah terjadi. Ari Saputra, Cowo teman sekelas Niky di kelas X dan XI sekarang sekelas dengannya. Semua ini bagai mimpi bagi Tyan.

 

“uuwwooouuyy… Yan,..?! kenapa ciiiyy??”, Niky yang sedari tadi mengamati teman sebangkunya ini terlihat sangat penasaran.

 

Tyan kemudian membisikkan sesuatu pada Niky.

 

“Haaaaahh??? Whaaat….??”, Niky kaget.

“Udaaa ahh..jangan melotot gitu, nyeremin tau, gakk…”

“tapi…masa’ iyaaa?? Se’ aku ingat-ingat dulu.”

 

Tyan tertawa sendiri melihat Niky yang sedang memutar ingatannya pada saat Tyan menanyakan Ari padanya.

 

“Aaahhhaaaa… iyaaa, aku ingat! Kau yang bertanya yang istirahat itu, kan? Ya.bener yang itu. Jadi… kamu suukaaa sama Aaarr….”

 

Tyan segera membekap mulut kawannya itu untuk mengamankan dirinya.

 

“Heeh…? kalian nih ngapain?” tanya seorang cowo yang tak kalah manisnya dengan Ari.

“eeeh…Diknas… kamu juga di kelas ini?”, tanya Niky setelah terbebas dari bekapan Tyan.

“Iya. Dari kelas kita yang cowo Cuma aku, Ari dan Herman. Ehhmm… Rii… aku duduk sini ya, biar Herman pindah ke tempatku.”

“ok. No Prolem, Nas.” Sahut Ari dengan senyum manisnya.

 

Tyan segera menunduk, tidak kuat melihat senyum itu.

 

***

 

 

Hari demi hari terlewati. Ari dan Tyan masih belum akrab. Malah, Diknas yang terlebih dulu akrab dengan Tyan. Hingga pada suatu ketika, ada hal yang menjadi awal persahabatan Ari-Tyan juga Diknas dan Niky.

 

“Ehhmmm… Nik, ini sapa namanya?”, tanya Ari sambil menunjuk Tyan.

“Tyan, Riiii… kamu ni gimana kan uda lama masuk kok baru tanya sekarang.”

“Hehehehe… aku kan lupa. Ehhmm… Tyan, aku pinjam bukumu. Boleh?”

“Aaahhh… eee…. apa katamu? Buku? Ii…iiiyaaa ini. Boleh kookk…”, jawab Tyan gelagapan.

 

Ari mengambil buku warna jingga itu dengan mengerutkan kening. Sementara itu, Tyan memperhatikan Ari. ‘Matanya indah… alisnya bagus, hidungnya bagus, bibirnya manis… waaauuu… lesungnya membuatnya terlihat begitu sempurna.’, bisik Tyan dalam hati.

 

“Heeeeiiii… ayo pulang, Yan! Gag mau pulang kamu yaaa?”, Diknas membuyarkan lamunan Tyan.

“Eeeehhh…udah pulang? Iyyaa ayo pulang. Ayo Nik!”

 

***

 

Sejak hari itu, Tyan, Niky, Diknas dan Ari bersahabat. Mereka selalu menjadi satu kelompok setiap ada tugas kelompok (namun, Diknas yang lebih sering satu kelompok dengan Tyan daripada Ari), selalu guyon bareng setiap jam pelajaran kosong, dan yang pasti selalu berbagi dalam setiap hal. Bahkan mereka menjadi bangku yang paling ramai saat guru sedang menjelaskan. (hhehehe)

 

Hari ini jam pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Nur, sang guru bahasa memberikan tugas diskusi per 2 bangku. Dan jelas, Ari, Diknas, Tyan dan Niky menjadi satu kelompok. Keempat bersahabat itu bukannya diskusi, malah ngobrol sendiri.

 

“Hehhh… uda…udaaa… kok malah ngobrol. Ayo diskusikan gimana ini? Ya, Yan… ini kan topiknya harus lingkungan, kau punya ide gak?”, Diknas memulai diskusi.

 

Tyan tak menjawab, dia malah memandang ke arah lain. Diknas mengikuti arah pandangannya, dan ternyata….

 

“Tyaaaaaannnn….. kau ini.. bukan Ari yang kita jadikan topik diskusiiii,Yaaaannnnn…..!!!”, kata Diknas penuh penekanan.

“Haaaah?? Apa, Nas?”, Tyan kaget.

“Taaauuuu’ aaahh….”

“Diknas tadi nanya, kau punya ide gak tentang tugas ini?”, Niky menjelaskan.

“Ooooh… maaf, Nas… aku gak denger tadi. Jangan marah, pleeeaaseee!”

“gimana mau dengar, kau saja dari tadi lihat ke Ari. Huuuuh!”

“Apaa katamu, Nas?”, tanya Ari kaget.

“kau gak nyadar yaa… dari tadi dia merhatiin kamu.”

“Iya, tah, Yan?”

“Eeehhmmm maaf Riii…”, Tyan menundukkan kepala.

“Ada yang salah tah dari aku, Yan?”, Tanya Ari lagi.

“Gak ada apa-apa. Aku cuma suka kalau lihat wajahmu.”, jawab Tyan blak-blakkan.

Niky dan Diknas tidak menyangka sahabatnya akan menjawab seperti itu. Mereka membulatkan matanya dan melihat ke arah Tyan.

“sudah, gak usah ngliat kayak gitu. Ayo mulai diskusinya!”

***

 

Sabtu, 06 Agustus 2011.

Bel pergantian jam pelajaran berdentang. Jam pelajaran Mulok (english conversation) berakhir, digantikan jam pelajaran Seni Budaya (Seni Tari).

 

Sang Guru masuk. Setelah memberi sedikit pengarahan, sang guru memberi tugas membentuk grup tari modern. Tyan dan Niky berkelompok dengan Firda, Farza dan Fify. Mereka berlima bingung menentukan tarian yang akan mereka ambil. Akhirnya, setelah lama berpikir mereka memutuskan untuk menari Salsa.

 

“penilaian akan dilakukan dua minggu dari sekarang. Jadi, persiapkan diri kalian dan jangan lupa latihan.”, ujar sang guru.

“iya, Buu….”

***

Tiga kali dalam seminggu Tyan cs latihan menari. Tarian modern ini sangat asing bagi mereka, butuh usaha yang ekstra keras untuk melakukan gerakan-gerakan salsa dan tentunya untuk menghafal seluruh gerakannya.

 

“haaadduuuu….eeee… capeek… berhenti dulu doonk…”, ucap Tyan saat latihan terakhir alias gladi resik.

“Iyyyaa…Fy… udahan dulu… istirahat…yaaa…”, sambung Niky.

“Iyaa..iyaa… kita istirahat dulu. Ntar kalau udah gak capek lagi, mulai latihan lagi…yang semangat donk… besok kita tampil.”, sahut Fify, sang leader.

 

Sudah satu jam Tyan dkk latihan salsa. Perlahan-lahan mereka telah hafal gerakan-gerakan tarian mereka. Lumayan susah. Dibutuhkan stamina yang tinggi, kelentukan tubuh dan konsentrasi. Sebab, yang namanya tari salsa berirama cepat. Bagi pemula seperti lima gadis ini tentu sangat susah menyesuaikan diri. Apalagi Tyan yang bertubuh dempal, butuh penyesuaian yang lebih. Namun, gadis ini sangat menikmati gerakan salsa yang mereka contoh dari video-video di internet. Karena selain untuk penampilan yang bagus saat penilaian juga untuk menurunkan massa tubuhnya. (Hehehe)

 

“eeehh… Yan… kamu suka Ari ya?”

Tyan kaget mendengar pertanyaan yang ditujukan Fify ke arahnya.

“iya, Fy… dari kelas X, dia suka merhatiin si Ari itu.”, jawab Firda.

“Heeeeiiiiiiiii………..Firrrrdaaaaaaaa….. kau membuka kartu Asq…..”, ucap Tyan sedikit berteriak.

“Amppuuunn… ampuuunn… Yan….”, mohon Firda saat Tyan menggelitiknya.

Teman-temannya yang lain menertawakan tingkah mereka yang seperti anak kecil.

 

Sejak terbentuknya grup tari itu, terjalinlah persahabatan diantara gadis-gadis sebaya itu. Persahabatan yang sangat erat.

***

Hari yang ditunggu akhirnya tiba.

Para siswa XII IPA2 bersiap dengan kelompok masing-masing untuk menampilkan tarian modern. Grup Salsa mendapat nomor urut dua dari belakang, nomor 6. Mereka berlima tampak sangat antusias menunggu giliran tampil mereka. Tyan, Niky, dan Farza tangannya sangat dingin, pertanda mereka gugup. Sementara Fify, tak henti-hentinya berkata, “jangan ampe’ lupa gerakan yaaa… eee… semangat…!”

 

“Nomor 6, Salsa… ayo silahkan..”

 

Fify cs segera maju dan membentuk formasi. Kemudian, mulailah mereka melakukan gerakan tari setelah lagu salsa-grupo niche-la magia de tus besos.

 

Prooookkkk….proooookkkk…prooookkk…..

Terdengar tepuk tangan dari semua penduduk XII IPA2 setelah Fify cs menyelesaikan tariannya. Tak di sangka saat pengumuman grup salsa menjadi grup yang terbaik di kelasnya.

 

Predikat terbaik itu ternyata tidak membuat Tyan melompat kegirangan seperti yang sahabat-sahabatnya lakukan. Ada sisi lain di hatinya yang saat itu menangis. Menangis karena suatu hal yang belum bisa ia ceritakan pada sahabat-sahabatnya. Sepanjang sisa pelajaran di hari itu, Tyan tampak murung. Candaan Diknas tak sanggup membuatnya tertawa lebar seperti kemarin-kemarin. Niky, yang duduk sebangku dengannya tak berani menegurnya. Sahabat salsanya juga heran dan khawatir dengan perubahan sikap Tyan itu. Bahkan, Ari yang berusaha membuat gadis taurus itu tersenyum, ternyata malah membuat hati sahabat barunya semakin sedih dan murung. Ini membingungkan, batin Ari.

 

***

 

Sejak penilaian salsa minggu lalu, Tyan terlihat tak bersemangat. Dia selalu ingin sendiri. Tak mau bicara dan tak mau bercerita. Tiap kali sahabatnya bertanya apa yang terjadi, dia selalu bilang “gak ada apa-apa”. BINGUNG, kata-kata itu yang tepat menggambarkan keadaan hati dan pikiran grup salsa, Ari, dan Diknas.

 

Namun, tiba-tiba…

 

“Eeehh… jalan yuuukkk…”

“haaaaaahh??? Ini kamu yang ngomong, Yan?”, ujar Diknas

“Luuu kiiraaa setttaaann, Nas…?”

“Alhamdulillaaaahhh….Tyan kembali.”, seru Niky.

“Ayo. Mau jalan ke mana?”, tanya Ari.

“Ke mana aja. Yang penting keluar rumah.”

“OK. Pulang sekolah ntar langsung yaa… kamu sama aku. Diknas ma Niky.”

“Ehhhhmmmm… cocooook… rebes Riii…”, sahut Niky sambil mengerlingkan mata pada Tyan.

 

Pukul 13.30 WIB, waktu sekolah berakhir.

Tyan, Ari, Diknas dan Niky langsung melaju membelah jalanan siang itu. Mereka berkeliling kota. Mall, taman kota, dan monumen kota, bahkan pantai sudah mereka datangi. Tyan sangat menikmati petualangan mereka hari itu. Hatinya sedikit lebih tenang, apalagi bersama Ari. Tuhan, Jika aku boleh meminta… aku ingin setiap hari seperti ini, bersamanya, berada di dekatnya sebelum aku pergi…, batin Tyan.

 

“Langsung mandi dan istirahat ya, Yan…”

“Gak mau masuk dulu?”, tawar Tyan saat turun dari motor Ari.

“Makasih… gak usah. Kapan-kapan aja. Sudah sore. Jangan lupa istirahat. Mukamu terlihat letih sekali.”

“Iya, Riii… hati-hati yaaa!”

 

Ari memacu motornya pulang. Tyan masih saja memandangi Ari sampai punggungnya hilang di tikungan. Kemudian dia berjalan masuk ke rumah. Namun, tiba-tiba dia berhenti. Dia memandang langit senja yang penuh jingga. Tyan bahagia. Senja selalu indah, namun hari itu berbeda. Senja itu adalah senja yang sangat indah.

 

“Tuhaan… ijinkan aku menyayanginya dan tolong jaga dia untukku…”, ujar Tyan tersenyum.

***

 

Seandainya kau ada di sini denganku…

Mungkin ku tak sendiri…

Bayanganmu yang selalu menemaniku..

Hiasi malam sepiku…

Ku ingin bersama dirimu…

Ku tak akan pernah berpaling darimu…

Walau kini kau jauh dariku kan selalu ku nanti…

Karena ku sayang kamu…

 

Lagu Dygta (Karena Ku Sayang kamu) mengalun lembut dari handphone Tyan. Pesan seingkat di terima.

“Firda?”, gumam Tyan.

 

Ngumpl yuuuk., Yan… d cafe tmpat biasa.

Yg d dkt waduk itt… malm ni. Anak2 jg ajk y…

 

Tyan langsung menekan tombol panggil.

 

“Halo…”

“Halo, Fir… aku gak bisa Fir… aku capek. Habis jalan-jalan tadi. Besok pagi aja, mumpung besok tanggal merah. Gimana?”

“Aaahh… iya yaa.. aku lupa. Ya sudah besok saja. Kasih tahu yang lain.”

“OK. Met malm.”

 

Tyan langsung mengetik pesan singkat.

Bsok pkul 9 ngumpul. Di tempt bysa. Wajib dtg!

 

Farza, Fify dan Niky terkirim.

 

Tyan menguap. Lelah membuatnya cepat mengantuk. Dia melihat jam, baru pukul 19.07 terlalu dini untuk tidur malam. Namun, sepertinya kantuk membuatnya tidak peduli. Ditariknya selimut kesayangannya dan beberapa saat kemudian gadis bermata bulat ini tertidur.

 

***

09.10.

Tyan telat 10 menit. Dia berlari masuk ke cafe jingga. Matanya menyapu seluruh ruangan. Di meja yang tepat berada di pinggir waduk, dilihatnya Niky dan Firda. Tyan menarik napas lega, kerena bukan hanya dia yang telat.

 

“hey… maaf telat.”

“gak apa laaahh… tumben telat? Biasanya selalu on time.”

“tadi ada masaaa….”, Tyan segera menutup mulutnya, kedua orang yang ada di depannya itu mengernyitkan alis. Nyaris saja Tyan salah bicara. “Aaahhh… mksdku ada kerjaan tadi Fir, Nik…”

Kedua sahabatnya itu hanya ber-ooh-ria.

 

Beberapa menit kemudian, Farza dan Fify datang.

 

“Maaf yaa, maaf telat.”,ujar mereka serempak.

“motornya bocor tadi, jadi masih ke bengkel dulu.”, tambah Fify.

“iya..iyaaa… gak apa-apa.”, sahut niky.

“Mas… pesan…”, Tyan memanggil seorang pelayan cowo.

Pelayan itu menghampiri mereka dan memberikan buku menu.

“Mau pesan apa?”, tanya si pelayan yang keren itu.

“Aku steak sama Jus jeruk.”, pesan Niky.

“Aku Burger aja deh… minumnya sama.”, kata Farza.

“Nasgor special yang khas sini aja, mas… sama vanilla latte.”, Fify sangat antusias memesan.

Sekarang giliran Firda, “Aku hotdog dan es yg rasa coklat khas sini tuh looh,mas…”

“Ok. Mbag yang ini maaa…” kata-kata si waitress itu terputus. Dia kaget saat melihat Tyan menutup buku menu dengan ekspresi frustasi.

“Aaaahhh… kok gak ada sih?”

“Kenapa, mbag? Apanya yang gak ada?”

“itu loh, mas…. saya thuu mau memesan yang teksturnya lunak, lembut dan warnanya meraaaahh… kok di buku menu ini gak ada?”, ujar Tyan.

“merah? Lunak? Yang mana ya?”, sang pelayan tampak bingung.

Melihat raut kebingungan itu, Tyan lalu memandang lembut waitress itu dan berkata, “masa’ gak tau sih? ituu loooh mas,,, aku thuuu mauuu pesan… eeehhhmmm… aku mau pesan hatimu. Boleh?”

“Hwahahahahahahahaha….”, keempat sahabat Tyan yang sudah curiga dari awal terbahak-bahak.

Si pelayan cowo itu terlihat kikuk dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Eeehhmmm… gak boleh ya, mas? Ya sudah, saya pesan spaghetti barbeque aja sama cappucino.”

“baaa…eee… baaiiklah. Mohon menunggu.”

 

Si waitress boy yang ternyata bernama Andre itu segera berbalik dan berjalan cepat. Sehingga, dia menabrak kursi dan nyaris terjatuh. Tyan cs tersenyum geli melihat tingkahnya.

 

“kamu thu, Yan… kasian dia.”, ujar Farza si miss tak tega.

“biar kenapa sih… kapan lagi gitu… hahaha”, jawab Tyan.

“Berapa kali, Yan tuh orang kamu gituin? Tiap kali ada kita, wajahnya selalu jadi kepiting rebus. Kamu lihat gak, tadi… dia yang berjalan ke arah kita tadi kelihatan ragu-ragu. Mungkin dia sadar kaleee’… kalau bakal kamu kerjain.”, Niky ikut bersuara.

“Kayaknya. Dia suka kamu deh,Yan.”Fify berargumen.

“Iya, Fy.. benar.sekarang aja si Andre itu lagi mandangin sahabat kita ini…”, sambung Firda.

“aaahhh… apa siiiih… udah aahhh…”

“deeee… gak percaya… lihat aja ntar… pasti dia lagi yang nganterin makanan kita.”

 

Dan 15 menit kemudian…

“tuuuh kan, benar…. pangeranmu datang lagiii…hehehe”,ujar Firda cengengesan.

 

“Selamat menikmati….”

“Eh.. Mas…”, panggil Tyan sambil meraih tangan Andre.

Andre kaget dan berbalik. “Ya, ada masalah?”

“gak ada masalah kok. Makasih yaaa…”, ucap Tyan seraya mengerlingkan sebelah matanya dan tersenyum manis pada Andre.

Si Andre tersenyum malu-malu. Kemudian, pergi.

 

“Aaahhhhaaaayyyy…. sudah… ayo makan.”

“Gila luu,Yan… waitress lu embat juga…”, kata Fify.

“Aku Cuma ngetest eee….”

Sahabat-sahabatnya hanya bisa tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol Tyan.

 

Di tengah-tengah obrolan makan siang lima sekawan itu, Tyan mendapat telepon. Bukannya segera menjawab, raut wajahnya berubah 180o.

“Sebentar ya… papa nelpon.”

 

Tyan segera menjauh dari sahabat-sahabatnya. Sementara itu, keempat sahabatnya menghentikan makan siang mereka ‘tuk mengamati Tyan. Jelas terlihat air muka tidak ceria pada Tyan. Mimik mukanya memperlihatkan bahwa Tyan sedang berdebat dengan papanya. Dia menangis, Handphone-nya terjatuh. Sahabat-sahabatnya segera mendatanginya dan memeluknya. Firda mengambil Hpnya dan menekan tombol loudspeaker. Dan terdengar kata-kata papa Tyan,

 

“Pulanglah… sayang… Papa juga tidak ingin pindah. Tapi, mau bagaimana lagi… ini tugas dari perusahaan. Mau tidak mau kita semua harus pindah. Papa akan mengurus semua urusan kepindahanmu. Papa juga akan mencarikan sekolah yang bagus untukmu di Seoul. Papp…”

 

Tyan merampas handphone-nya dari Firda dan memutuskan sambungan telepon.

“Seoul?”, gumam Firda.

“Apa yang terjadi, Tyan?”, tanya Fify

“Seoul bukannya di Korea?”, Farza memasang tampang lugunya.

“Kau mau pindah ke Seoul?, ucap Niky hati-hati.

Tyan mengangguk. Dia tak mampu berkata apa-apa, hatinya sangat sakit. Dia menangis di pelukan sahabat-sahabatnya.

 

***

 

Perpisahan yang Tyan dan grup salsanya tutup rapat-rapat itu pun terjadi. Hari itu tiba. Beruntung, seluruh siswa kelas XII IPA-2 hari itu tidak ada yang absen. Dengan dukungan dari teman-teman salsa-nya. Tyan maju ke depan kelas.

 

“Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikum salam…”, jawab seluruh warga XII IPA-2 dengan heran.

“Teman-teman… maaf sebelumnya sudah mengganggu waktu kalian. Aku Cuma minta sedikit waktu pada kalian semua. Mohon perhatian kalian.”

“Ada apa, Yan? Kok tumben-tumbenan kayak gini?”, tanya Diknas.

“ada hal yang sudah dua bulan ini ingin aku katakan, Nas. Mmmm… langsung to the Point saja. Begini, teman-teman… Aku akan pindah ke luar negeri.”

 

Tyan menarik napas dalam-dalam. Dia mengamati wajah temannya satu per satu. Raut wajah tidak percaya tergambar di wajah mereka. Terdengar suara bisikan yang mengisyaratkan ketidakpercayaan terhadap apa yang dia nyatakan.

“Aku tahu, kalian pasti tidak percaya. Karena aku sendiri sampai saat ini tidak percaya.” Ucap Tyan.

 

Tyan merasakan butiran bening tergenang di sudut matanya. Dia menoleh ke arah sahabat salsanya, mereka mulai menitikkan air mata. Ari dan Diknas pun begitu, raut wajahnya menyiratkan rasa tak percaya.

 

“Lalu, Kau kapan berangkat?”, tanya Andra.

“Aku berangkat…”, kata-kata Tyan terhenti, dia tak sanggup meneruskan. Butiran bening itu mulai mengalir di pipinya. “Aaaa…kkuuu… berangkat… haaarriii…. iii..nniiii…”

“Apa? Hari ini? Mendadak sekali,Yan.”, ujar Angga.

 

Tyan tak menjawab. Dia terduduk di lantai dan menangis. Tiba-tiba ada seseorang yang membantunya berdiri.

 

“Ariiii??”
“jangan seperti ini, berdirilah… katakan apa yang ingin kau katakan pada kami.”, Ari menatap dalam ke mata Tyan dan Tyan semakin tak kuasa membendung tangisnya.

“Riii….”

Ari tersenyum dan berkata, “aku yakin kamu bisa.”

“Ayahku ditugaskan ke Korea. Persiapan kepindahanku sebenarnya sejak dua bulan yang lalu. Tapi…. aku… menyembunyikan semua ini. Aku tak sanggup mengatakan bahwa aku akan meninggalkan kalian…. Akuuuu… minta maaf pada kalian semuaaa… jika aku pernah membuat hati kalian sakit. Maaf, aaakkkuuuu tidak bisa lebih lama dengan kalian. Dan satu hal, sebelum aku berangkat….” Tyan kembali terisak.

 

Ruangan itu kini menjadi lautan kesedihan. Air mata jatuh dari masing2 sepasang mata milik teman-temannya. Para penduduk XII IPA2 tak menyangka teman mereka, saudara mereka senasib seperjuangan yang terkenal sangat baik harus meninggalkan mereka secepat ini.

 

Melihat kesedihan di wajah teman2nya, Tyan melanjutkan kata-katanya, “Sebelum aku benar2 pergiii… aku ingin mengatakan… aaakkkuuuu ssaaayyyyaaanngg kaaliiiaannn semua… kalian sahabat terbaikku… kawan terbaikku… ddaaaannnn…. Aaarrriiii….”

 

Tyan menarik napas dalam-dalam.

 

“Akkuuu minta ijin darimuuu….” kata-katanya terputus lagi. Gadis berumur 18 tahun itu merasakan dadanya nyeri, sulit baginya mengungkapkan ini semua di akhir pertemuan.

“Kau minta ijin apa, Tyan?”, tanya Ari sambil berjalan menuju cewe berambut panjang yang selama ini duduk tepat di belakangnya.

 

Tyan melangkah maju.

 

“Akkuuu mmooohhhoooonnn…. iiiijjjj…jjjiiinkkaaannn…. aaakkkkuuuuu…. meenyyyaaaayangiiimu, Riii….”

 

Semua yang ada dalam ruangan klas bercat biru langit itu tercengang mendengar kata-kata Tyan. Sungguh tak ada yang menyangka rasa itu Tyan tanamkan untuk Ari. Belum  sempat teman-temannya bangun dari keterkejutannya, Mereka kembali membulatkan matanya melihat apa yang ada di depan mereka.

 

Tyan memeluk Ari, sangat erat. Ari membalasnya.

 

“Maaf, Rii… maafkan aku yang telah membiarkan rasa ini tumbuh…”

“Kau tak perlu minta maaf,Yan… gak ada yang salah dalam hal ini. Makasiiih… makassiiiihhh bangeet telah menyayangi orang seperti akuu…”

“Aku sayang kamu, Ri…”

 

Isak tangis mewarnai ruangan itu. Satu per satu, teman-teman Tyan memeluk Tyan sebelum dia pergi. Banyak pesan dan kesan yang mereka sampaikan pada Tyan. Yang jelas teman-temannya tak ingin Tyan melupakan mereka.

 

“Tyan…kami tetap di sini, masih di sini dan akan terus di sini menjadi sahabatmu.” Ujar Niky.

“Jangan lupakan kami semua ya, Yan…”, Farza memeluk Tyan sangat erat, dia tak mampu kehilangan sahabatnya.

“Jangan lupa yaa… saling berbagi cerita ke kami… kami akan selalu menyayangimu.”, ujar Fify berkaca-kaca.

“Heeeiii… kauuu…. cewe pabo… akhirnya kau bisa mengatakan semuanya pada si namja ini… Kau benar2 bodoh. Kenapa baru sekarang kau mengutarakannya? Itu hanya membuat hatimu perih. Kau baik-baik yaaa… di sana… jangan lupa kalau liburan datanglah ke sini… dan jika kau sampai melupakan kami… awas sajjaaa…. ku kirimkan seratus belalang untukmu.”

“Firdaaaa….. kau jahat sekali padaku. Lihatlah Niky, Fify dan Farza… dia jahat sekali padaku, padahal aku kan masih ada di sini. Bagaimana jika nanti aku sudah pergi? Mungkin dia akan mengirimkan pembunuh bayaran untukku..”, ujar Tyan. Sahabat salsanya tertawa. Kemudian, Mereka berpelukan.

 

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Ibu Sari membuka pintu. Beliau datang bersama dua orang yang berumur 40-an. Si Pria menggunakan setelan Jas yang tidak murah, dan sang Wanita menggunakan pakaian yang anggun berwarna keemasan. Tampaknya mereka sepasang pasutri. Semua orang menjadikan mereka fokus penglihatan.

 

“Tyan….”

 

Tyan kaget, dia menoleh ke sumber suara. Dia melihat Bu Sri berdiri di ambang pintu bersama Papa dan Mamanya.

 

“Saayyaaang… sudah waktunya…”, ujar si pria yang ternyata ayah Tyan.

 

Tanpa kata-kata dan dengan langkah yang berat, Tyan berjalan keluar meninggalkan teman-temannya yang masih terisak.

 

Dua langkah lagi menuju papanya, Tyan berbalik dan berlari ke tempat orang yang dia sayang berdiri. Tyan memeluk Ari dan tangisnya kembali pecah.

 

“Hapus air matamu, aku tak ingin melihatmu menangis lagi… aku masih di sini… tetap di sini dan akan terus di sini menunggumu.”, ucap Ari seraya mempererat pelukannya.

“Ari?”, Tyan tak mengerti.

“AKU JUGA MENYAYANGIMU,TYAN… AKU MENCINTAIMU… JAGA DIRIMU BAIK-BAIK DI SANA. AKU AKAN MENYUSULMU.”

“Ariii…. kaaauuu…?”, terpancar rona bahagia di wajah Tyan.

 

Untuk ke sekian kalinya, Tyan memeluk Ari. Kemudian dia melangkah mundur, serasa tak sanggup berpaling tuk meninggalkan orang yang dinantinya itu.

 

“Aku pergi yaaa… aku tak akan melupakan kalian.. aku akan selalu merindukan kalian… Aku nitip Ari yaaa… ARI, AKU SAYANG KAMU…”

 

Tyan berbalik, dengan langkah mantap dia menuju ke arah ortunya menunggu. Sudah tidak ada lagi ganjalan di hatinya. Dia juga bahagia… Ari ternyata menyimpan rasa yang sama. Baginya tak ada hal yang lebih indah kecuali bisa mengungkapkan perasaannya.

 

***

 

“Pa… Ma… aku bahagia bangeet hari ini… semoga di sana kita bahagia yaaa…”, ujar Tyan saat hendak naik ke pesawat.

 

10 Menit lagi, pesawat akan lepas landas. Kehidupan yang baru dan benar-benar baru sudah menanti Tyan dan keluarganya di depan mata.

 

“Aku sayang kamu, Rii…”, gumam Tyan saat memandangi foto Ari di dompetnya.

“Aku juga selalu sayang kamu, Yan…”

 

Tyan kaget mendengar jawaban orang di sebelahnya. Dia menoleh dan orang itu menurunkan buku yang menutupi wajahnya.

 

Surpriiiisseeee

 

“Haaaaaa???? Arrriiiii…..?”

“Aku kan sudah bilang, aku akan menyusulmu.”

“Tapiii, bagaimana…???”

 

Ari tak menjawab. Dia hanya mengerlingkan mata indahnya pada Tyan.

 

 

 

 

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s